Pulang – Dan sepenggal cerita dari Yogya :)

Kira-kira dua minggu lalu gue ke Yogya. Sendirian. Udah sejak lama gue pingin balik lagi ke Yogya, tapi belum ketemu waktu yang pas, mostly karena kerjaan atau satu hal lainnya πŸ™‚ Tapi magnet Yogya itu kuat buat gue, entah kenapa gue selalu merasa bisa terhubung dengan kota ini, buat gue Yogya adalah kota yang tepat untuk jatuh cinta.

Jatuh cinta tidak hanya dengan orang lain. Jatuh cinta dengan kota ini, jatuh cinta dengan orang-orang nya, jatuh cinta dengan makanannya, jatuh cinta dengan tiap sudut kota ini bercerita, jatuh cinta dengan keramahannya, jatuh cinta dengan .. diri sendiri πŸ™‚

Beberapa orang bilang, gue pergi ke Yogya di waktu yang gak tepat. Buat gue, ini tepat. Gue butuh menjauh dari Jakarta. Sesaat. Ada banyak hal yang bisa diceritakan dan ada juga yang gak bisa disuarakan. Gue lupa kapan terakhir kalinya gue peduli dengan hati gue, dengan pikiran gue. Gue lupa kapan terakhir kali gue egois. Boleh kan ya once for a while kita egois ? Gue lupa kapan terakhir kali ditanya “Kamu maunya apa ?” dan gue jawab dengan “Aku maunya … ” . Iya, Gue lupa.

Gue ke Yogya sendiri. Gak sedikit yang bertanya (atau curiga), kenapa gue sendiri. Kenapa enggak ? πŸ™‚ Solo traveling buat gue itu semacam elo traveling jujur, elo traveling dengan diri lo sendiri, gak ada yang namanya gak enak-enak’an, elo yang tentuin elo mau jalan kemana, elo tahu resikonya kemungkinan apa aja, dan ya elo hadepin apapun yang lo pilih.

Ke Yogya ini gue bela-belain sih alias emang niat banget. Maju mundur gue ke Yogya bukan karena kerjaan tapi karena HB gue yang makin hari makin drop. Sebelum ke Yogya, gue periksa HB gue berapa, gue ke Yogya dengan HB 5.8. Rendah. Iya. Beberapa orang yang ngasih tahu gue untuk reschedule atau cancelled trip ke Yogya ini juga gue perhatiin sih perasaannya. Tapi gimana. Gue bener-bener butuh kok trip ini πŸ™‚

Berangkat dari kantor Jumat malam setelah acara kantor selesai, berpikir dua kali saat seorang yang baik mau nganter gue simply karena tas gue cukup besar (gue pake ransel 32liter kalo gak salah) dan dia gak mau lihat gue terlalu capek yang akhirnya gue iyakan karena ya gue tahu gue pasti akan kesulitan sih πŸ™‚ (And I thank you for that ya Masnya!). Β Tiba di Yogya malam hari, gue memutuskan menginap semalam di Adhisthana Hotel, Prawirotaman. Taruh tas, lalu gue keluar untuk cari minum yang anget di kedai makanan Adhisthana. Duduk aja diluar sekitar 1.5 jam, lihat mas dan mbak yang lagi makan, yang lagi pedekate. Gue menemukan diri gue dalam malam, memandang orang-orang dengan cerita yang berbeda. Kapan terakhir kali gue menikmati malam kayak gini ? πŸ™‚

Tidur dan bangun tanpa agenda, pagi ditemani sebuah sapaan “Selamat pagi ..” Selamat pagi untuk Masnya yang telah menyapa pagi dan juga menyapa gue πŸ™‚ There’s nothing could be wrong dari selamat pagi, bukan ? πŸ™‚ Sabtu pagi dan gue memutuskan untuk ke Art Jog 2017, nanti gue ceritain ya isinya Art Jog hahaha .. Ke Art Jog ini baru pertama kali juga dan .. nyenengin! Gue ngobrol sama teman-teman yang masih kuliah atau mereka yang volunteering buat bantuin di Art Jog. Making friends! Nah, dari tadi mikir apa sih ya .. baru di Yogya sebentar, gue bisa ketemu dan ngobrol sama siapa aja yang pengen gue ajak ngobrol.

Hari kedua dan ketiga gue nginep di Yats Colony, Patangpuluhan. Yats adalah hotel yang akan gue ingat dengan banyak cerita manis πŸ™‚ Banyak percakapan hangat terjadi di sini. Banyak sapaan rindu yang akhirnya terucap. Hanya sapa dan cerita πŸ™‚ Hanya itu. Tapi apalah artinya cerita rindu tanpa pertemuan, gitu kan ya ? πŸ™‚ Belum. Belum waktunya.

Yats Colony adalah hotel dengan design industrial yang penuh hangat, tawa, canda, kenangan indah, tempat dimana kamu bisa ajak orang tersayang untuk menyapa pagi di Yogya. Selama dua hari gue melihat banyak penghuni hotel yang lalu lalang, bersama keluarga, bersama sahabat dan bersama kekasih πŸ™‚ Salah satu sapa hangat gue dapat dari waiter di Yats, semudah itu gue making friends dan ngobrol sama orang πŸ™‚

Malam di hari kedua gue memutuskan untuk nonton sendratari Rama Sinnta di Candi Prambanan. Jauh ? ya lumayan 1 jam pake ngebut. Ngeluarin 300ribu yang gak sia-sia, gue enjoy nonton sendiran sama para bule-bule di sebelah gue. Gue ketawa, gue kagum, gue nikmatin nontonnya tanpa ada yang bilang “Jangan ketawa kenceng-kenceng ..”. Gue beneran yang nikmatin setiap jokes, setiap cerita, lighting dan tariannya. Kalian harus deh lihat sendratari Rama Sinta versi outdoor ini. Worth every rupiah!

Pulangnya ? Gue ngajak driver Candi Prambanan makan mie jawa di alun-alun πŸ™‚ Gue adalah penumpang terakhir yang di drop, I ask him to dinner with me and he said yes πŸ™‚ And we talk, about his life, about Yogya, we talk and laugh. Lagi, disini gue menemukan bahwa ngobrol sama orang yang gak lo kenal somehow lo menemukan diri lo sih πŸ™‚ Gue agak bingung ya ngejelasinnya gimana but i hope someday you guys will know πŸ™‚

Pulang ke hotel hampir tengah malam, ada sapa yang menjemput dan bertegur. Kembali πŸ™‚ Menyenangkan. Iya gue lupa apa namanya, menyenangkan untuk disapa setelah seharian sendiri mencoba memahami banyak hal di kepala πŸ™‚ Gue ? Gue berterima kasih kepada malam yang memberikan kesempatan gue untuk menyapanya kembali πŸ™‚

Gue menjelajah sedikit demi sedikit Yogya tanpa itinerary, tanpa agenda. Gue menikmati hari demi hari kemana gue berjalan atau kemana Uber gue ngebawa gue πŸ™‚ Gue makan dimana teman-teman baik gue merekomendasikan tempat makan enak, gue pergi ke tempat oleh-oleh tanpa membeli buat diri gue sendiri. I buy things for those who i care. And I choose those who i really care πŸ™‚ Boleh kan ya ? πŸ™‚

Gue gak banyak jalan jauh. Tapi gue menikmati kok tiap tempat yang gue datangi atau bahkan hanya nonton atau baca buku di hotel, atau saling melempar kabar dengan Masnya yang entah gimana mampu bikin gue terpikat dengan ceritanya πŸ™‚ Yang namanya cerita perlu didengar kan ? πŸ™‚ Selain itu, gue cukup tahu diri dengan keadaan kesehatan gue yang agak menurun. Untungnya Masnya pun (lagi-lagi dan tak kenal lelah) mengingatkan gue untuk bawa Oxycan, bawa air putih dan camilan. He never forget even for a day. Never, and again, terima kasih untuk waktunya buat gue Masnya.

Gue bahkan datang ke kepatihan, kompleks kantor Gubernur dan tebak disana gue lihat siapa ? Gue lihat Cak Nun! Ini tuh .. kebetulan. Days before gue ke Yogya, Masnya cerita “Kamu ke TIM deh, once in a month ada Cak Nun gitu … ” dan malam itu, gue nonton Cak Nun like one and a half hour, duduk dibawah, bersila dan bersebelahan dengan orang yang gak dikenal yang berbaik hati menawarkan sehelai koran ke gue untuk gue dudukin πŸ™‚

Malam itu, a very late dinner gue adalah Gudeg seharga 20ribuan di jalan Malioboro dengan Es Kopi Hitam dan pengamen jalanan yang bersuara bagus, cukup banget menghibur gue bahkan bapak koordinatornya datang ke meja gue dan ngobrol cukup lama sama gue πŸ™‚ Lagi, gue menikmati pembicaraan random dengan orang-orang di Yogya. It’s like you don’t need to create some fancy conversation, you won’t see these people again kok, cukup jadi diri sendiri dan biarkan pembicaraan seadanya mengalir. Ini yang gue suka sih πŸ™‚ Menikmati malam tanpa ada hal-hal angkuh atau egois yang bikin hati sakit atau sedih.

Malam terakhir gue menginap di Pawon Cokelat, daerah Sosrowijayan dekat dengan Sarkem. Malam dan gue salah masuk gang, itu .. bikin khawatir sih πŸ™‚ Enggak, gue gak khawatir gimana, gue cuma khawatir kalo nafas gue habis dan capek sedangkan penginapan gue masih jauh πŸ™‚ Gue gak khawatir akan ketemu preman lokal, atau penjual cinta palsu di tengah jalanan. Enggak, gak se-khawatir itu kok πŸ™‚

Pawon Cokelat adalah guest house sederhana dengan kearifan lokal. Hahaha karena harganya yang sangat terjangkau dan fasilitas guest house yang buat gue ya .. cukup kok untuk gue menginap semalam disini πŸ™‚ Pawon cokelat itu seperti rumah πŸ™‚ Gue menghabiskan 5 jam buka laptop untuk urusan kerjaan di dining room nya mereka. Dan … gue benar-benar nikmatin kerja dengan pemandangan kayu-kayu sederhana yang dibuat Indah.

5 hari 4 malam. Gak ada itinerary atau agenda yang harus gue datengin. Kemana-mana bawa Oxycan dan air putih. Makan apa yang dipengen. Ngobrol sepengennya ngobrol. Dan ketikan percakapan yang gue lupa dari awalnya hanya bertegur sapa dan canda berubah menjadi “Kapan pulang toh kamu …?” Iya ya, kapan pulang ya gue πŸ™‚

Pulang. adalah saat gue ditanya hari ini gimana dan gue yang capek ini akan bilang capek, dan gue yang bahagia ini akan bilang gue bahagia, dan kalau gue lagi sayang sama seseorang akan bilang .. “Aku sayang kamu … so please stay with me, even for a while.”

Pulang adalah bisa bicara apa saja dengan satu orang tanpa rasa bosan. It was like you talk with your old friend at 2am or 4am and they keep replying your messages and keep asking how’s your sleep, How’s your day, How’s your feeling.

Pulang adalah menemukan seseorang yang mengucap kata “Kamu jangan pergi lama-lama dong .. ” dan memberikan sebuah pelukan yang enggan dilepas walau lo tahu elo harus saling melepas pelukan mewah sehangat itu.

Pulang adalah menemukan cinta di sepasang mata yang menatap kita tanpa berkedip tanpa mengucap kata. Hanya mata yang berbinar melihat kita ada di depannya.

Pulang adalah mengetahui ada jarak yang besar diantara kita but somehow jarak menjadi bisu saat tangan saling memburu.

Pulang adalah rindu yang tak sia-sia.

Dan Pulang adalah dimana gue sekarang. Pulang adalah dimana kita sekarang.

Dan gue harap gue pulang kepada rindu yang tepat menyapa gue, kepada mata yang lekat menatap gue, kepada tangan yang mau menarik gue ke pelukannya.

Gue harap, gue pulang.

IMG_9806

Cheers, Tere dan Yogya, Juni 2017.

Ps : Jangan memberikan kesimpulan yang men-judge gue ya πŸ™‚ You never know the path that I walk all these time … You never know because I never tell and you never ask πŸ™‚

 

 

 

 

Advertisements

10 comments

  1. Istirahat di Yogya ya Tere πŸ™‚ sounds like it was so relaxing. Sing penting kowe sehat2 selama di perjalanan.

    1. It wasssss πŸ™‚ Sehat Alhamdulillah sehat

  2. Tere, baca tulisanmu jd kangen Yogya dan bengong2 sendirinya. Ahhh Yogya jg punya banyak cerita utk aku 😻

    1. Yogyaaaaa hahahhaha nyenengin Mbakkkkk

  3. Halo mbak! aku termasuk silent reader nih, cuma tulisan yang ini bener – bener apa yaaaa … memikat hati πŸ™‚ hope you had your time in jogja .. i bet you had! πŸ™‚

    1. Awww memikat! Sini sini ngobrol sini

  4. Ih, ya ampuuuun romantic sekali baca postingan ini
    Rindu pd Jogja kian bertalu2 πŸ™‚

    1. Hahahaha makasihhhh Yogya emang ngangenin yaaaa

  5. dianravi82 · · Reply

    Sesekali menjadi egois itu enggak ada salahnya. Apalagi meski gw cuma mengamati lo dari dunia maya aja, gw tahu betapa enggak egoisnya lo itu, Ter.
    Kalau lelah dan butuh sendiri, pergilah. Gw sih enggak akan nanya kenapa lo pergi sendiri. Sudah biasa bukan. Yang penting adalah, lo bahagia.
    Cepat sehat ya Tere.

  6. dan aku iri baca tulisan ini mbak Tere. Pengen euy sekali-kali melakukan perjalanan solo tanpa itinary begini. Sayang udah punya buntut dua, jadi…ah sudahlah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: